Home »
Dasar Hukum dibolehkannya penggunaan Azimah dalam Islam
Dasar Hukum dibolehkannya penggunaan Azimah dalam Islam
16.13
DASAR HUKUM MENJADIKAN AYAT-AYAT QUR‟AN DAN HURUF-HURUFNYA SEBAGAI WIFIQ ATAU AZIMAH UNTUK TABARRUK
Untuk mendapatkan keberkahan melalui Qur'an maka Rasululullah SAW, para sahabat dan para ulama pewaris Nabi mengajarkan dan mencontohkan bagaimana cara meraih dan memanfaatkan keberkahan tersebut, diantaranya dengan membaca nya, mengamalkannya dan menuliskan ayat-ayat Qur‟an dan potongan- potongan ayat untuk dibawa dan disimpan dirumah rumah atau tempat-tempat yang hendak diliputi keberkahan. Abu Daawud berkata : ُ
Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa‟iil : Telah menceritakan kepada kami Hammaad, dari Muhammad bin Ishaaq, dari „Amru bin Syu‟aib, dari ayahnya, dari kakeknya : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu „alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada mereka doa untuk berlindung dari rasa takut : a‟uudzu bikalimaatillaahit-taammati min ghadlabihi wa syarri „ibaadihi wa min hamazaatisy-syaithaani wa an-yahdluruun(Aku berlindung kepada kalimat- kalimat Allah yang sempurna dari kemarahan-Nya, siksa-Nya, kejahatan hamba-hamba-Nya, dan dari bisikan-bisikan syaithaan serta kedatangannya). Dan dulu „Abdullah bin „Amru mengajarkan doa tersebut kepada anak-anaknya yang berakal/baligh; sedangkan anak-anaknya yang belum berakal/baligh, ia menuliskannya dan menggantungkannya pada anak tersebut (di lehernya) (As- Sunan no. 3893)
Pendapat Ulama Imam Mazhab Tentang Penggunaan Ayat-ayat Qur‟an Untuk Tabarruk.
Madzhab Imam Hanafi Membolehkan jimat yang digantung di leher yang berisi ayat Quran, doa atau dzikir. Al-Matrazi Al-Hanafi dalam kitab Al-Maghrib mengatakan:
ًُُولٌسُكذلنُإنماُالتمٌمةُه,ُوبعضهمٌُتوهمُأنُالمعاذاتُهًُالتمائم:ًلالُالمتب ُوَّلُبؤسُبالمعاذاتُإذاُكتبُفٌهاُالمرآنُأوُأسماءُهللاُعزُوجل,الخرزة
Artinya: Al-Qutbi mengatakan bahwa ma'adzat (pengobatan) adalah tamimah (jimat jahiliyah). Padahal bukan. Karena tamimah itu dibuat dari manik. Ma'adzah tidak apa-apa asalkan yang ditulis di dalamnya adalah Al-Quran atau nama- nama Allah.
Madzhab Imam Maliki. Berpendapat boleh. Abdul Bar dalam At-Tamhid XVI/171 menyatakan:
َُُّلُبؤسُبتعلٌكُالكتبُالتًُفٌهاُأسماءُهللاُعزُوجلُعلى:ُولدُلالُمالنُرحمهُهللا ُُوهذا,أعناقُالمرضىُعلىُوجهُالتبرنُبهاُإذاُلمٌُردُمعلمهاُبتعلٌمهاُمدافعةُالعٌن ُمعناهُلبلُأنٌُنزلُبهُشًءُمنُالعٌنُولوُنزلُبهُشًءُمنُالعٌنُجازُالرلًُعند )مالنُوتعلٌكُالكتب
Artinya: Malik berkata: Boleh menggantungkan kitab yang mengandung nama-nama Allah pada leher orang yang sakit untuk tabarruk (mendapat berkah) asal menggantungkannya tidak dimaksudkan untuk mencegah bala/penyakit. Ini sebelum turunnya bala/penyakit. Apabila terjadi bala, maka boleh melakukan ruqyah dan menggantungkan tulisan di leher.
Madzhab Imam Syafi'i. Berpendapat boleh. Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmuk Syarhul MuhadzabIX/77 menyatakan:
ُ,ُروىُالبٌهمًُبإسنادُصحٌحُعنُسعٌدُبنُالمسٌبُأنهُكانٌُؤمرُبتعلٌكُالمرآن ُُإنهُإنُرلىُبماَُّل:ُهذاُكلهُراجعُإلىُماُللنا:ًُلالُالبٌهم,َُُّلُبؤسُبه:ُولال ُُأوُعلىُماُكانتُعلٌهُالجاهلٌةُمنُإضافةُالعافٌةُإلىُالرلىُلمٌُجزُوإن,ٌعرف ُرلىُبكتابُهللاُآوُبماٌُعرفُمنُذكرُهللاُتعالىُمتبركاُبهُوهوٌُرىُنزولُالشفاء منُهللاُتعالىَُّلُبؤسُبهُوهللاُتعالىُأعلم
Artinya: Baihaqi meriwayatkan hadits dengan sanad yang sahih dari Said bin Musayyab bahwa Said memerintahkan untuk menggantungkan Quran dan mengatakan "Tidak apa-apa". Baihaqi berkata: Ini semua kembali pada apa yang kita katakan: Bahwasanya apabila ruqyah (pengobatan) dilakukan dengan sesuatu yang tidak diketahui atau dengan cara jahiliyah maka tidak boleh. Apabila ruqyah dilakukan dengan memakai Al-Quran atau dengan sesuatu yang dikenal seperti dzikir pada Allah dengan mengharap berkahnya dzikir dan berkeyakinan bahwa penyembuhan berasal dari Allah maka tidak apa-apa.
Madzhab Imam Hanbali (madzhab fiqh-nya kalangan Wahabi) 31Berpendapat boleh. Al-Mardawi dalam kitab Tash-hihul Furu' II/173 menyatakan:
ُُوٌباحُتعلٌكُلالدةُفٌهاُلرآنُأو,ُوٌكرهُتعلٌكُالتمائمُونحوها:ُُلالُفًُآدابُالرعاٌة ُُوٌجوزُأنٌُكتبُالمرآنُأوُذكرُغٌره,ُُوكذاُالتعاوٌذ,ُُنصُعلٌه,ُذكرُغٌره ُُوفًُإناءُثمٌُسمٌانُمنهُوٌرلىُمن,ُ)ُُ(ُوحامل,ُُوٌعلكُعلىُمرٌض,ُبالعربٌة ذلنُوغٌرهُبماُوردُمنُلرآنُوذكرُودعاء
Artinya: Dalam kitab Adabur Ri'ayah dikatakan: Hukumnya makruh menggantungkan tamimah dan semacamnya. Dan boleh menggantungkan/memakai kalung yang berisi ayat Quran, dzikir, dll. Begitu juga pengobatan. Juga boleh menulis ayat Quran dan dzikir dengan bahasa Arab dan digantungkan di leher yang sakit atau wanita hamil. Dan (boleh dengan) diletakkan di wadah berisi air kemudian airnya diminum dan dibuat pengobatan (ruqyah) dengan sesuatu yang berasal dari Quran, dzikir atau do'a. Tabarruk dengan ayat al-Qur`an sudah sangat diketahui di kalangan Ahlus Sunnah wal Jama‟ah, apakah dengan membacakan kepada sesuatu atau pun dengan menuliskan pada sesuatu.
ُ ب ٌم ِ ح ِ بسمُهللاُالرحمنُالر تا ك ِ ُ ل ّ ِ ك ُ ُ ح ُ تا ف ْ ُم
„Bismillahir Rahmanir Rahim‟ adalah pembuka setiap kitab. (Jami‟ush Shaghir) Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir ketika mensyarah hadits tersebut menulis :
فمنُكتبهاُستُمئةُمرةُوحملهاُمعهُرزقُالهٌبةُفًُللوبُالخالئك
Siapa yang menulisnya (menulis basmalah) enam ratus kali dan membawanya, maka diberikan kepadanya rasa segan di hati setiap makhluq. (Faidhul Qadir III: 192)
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu:
وهوُأحكُأنٌُسمىُمباركاُمنُكلُشًءُلكثرةُخٌرهُومنافعهُووجوهُالبركةُفٌه
"Dan Al-Quran lebih berhak untuk dinamakan "mubarak" dari segala sesuatu karena banyaknya kebaikannya, manfaatnya, dan segi-segi barakah di dalamnya" (Jala'ul Afham hal: 432, Dar Ibnul Jauzy )
Demikian uraian kami mengenai dasar hukum penggunaan Azimah yang terbukti bahwa penulisan Azimah yang merupakan bagian dari Ilmu Hikmah yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAWW dan diteruskan oleh para Sahabat, para Wali, para Alim Ulama, utamanya para Alim Ulama pewaris Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang mana Ilmu Hikmah ini adalah bagian dari kekayaan cabang-cabang Ilmu Pengetahuan dalam Islam.
Jika ada pihak-pihak yang kurang sependapat dengan uraian di atas, Pijar Bangsa siap melakukan diskusi ilmiah secara terbuka untuk pembuktian ilmiah agar lebih luas lagi masyarakat mendapat pemahaman dan penyebaran informasi yang sebenarnya dalam akidah syariat Islam dari sumber yang jelas dan terpercaya, bukan dari sumber-sumber tanpa dasar ilmu pengetahuan yang tidak jelas.











